Apa itu waktu luang..? pernahkah
terlintas dalam benakmu betapa mempengaruhinya waktu luang terhadap kesuksesan..?
sejauh apakah pengaruh mindset kita terhadap perbuatan kita, jika keliru
memandang apa itu waktu luang…? Bisakah emosi kita larut dalam waktu luang
itu…?
Pertanyaan-pertanyaan yang saya
kemukakan diatas, begitu penting untuk kita jawab. Hal ini sebagai perespon
untuk bagaimana kita berpikir ulang tentang hal-hal yang lazim, bahkan kalau
kalian mau dekonstruksi makna waktu luang jika perlu. Tapi initinya bahwa
apapun pendefenisian anda tentang waktu luang sangatlah berpengaruh dengan
tindakan kita.
Mindset…?
Saya menganggap bahwa mindset adalah
tentang kebagaimanaan kita mendefenisikan sesuatu.
Maksudnya anggapan-anggapan kita akan sesuatu itu bagaimana yaaa, nah semua
bangunan-bangunan anggapan kita sangat mempengaruhi tindakan kita. Maka dari
itu anggapan mengenai waktu luangpun perlu dibangun agar anggapan mengenai
waktu produktif juga mengikutinya. Semakin luar biasa anggapan kalian tentang
waktu luang maka akan semakin luar biasa pula anggapan mengenai waktu produktif.
Mindset akan berubah ketika dipengaruhi oleh persepsi-persepsi, pengalaman dan
nilai yang dianggap benar. Dan ketiga bangunan itulah yang menjadi pondasi dari
mindset kita.
Saya akan memberikan ilustrasi
tentang pengaruh mindset seseorang terhadap tindakan. Si busman dan si sumir
memiliki bisnis penjualan pulsa, keduanya memiliki pandangan tentang uang yang
jauh berbeda. Jika si sumir menganggap bahwa uang sebagai sumber kekacauan dan
rata-rata orang kaya hanya mau mengambil keuntungan dari orang miskin dan memperalat
semua potensi kemanusiaan. Sedangkan si busman menganggap bahwa uang bisa
dijadikan sebagai solusi dari masalah dan orang kaya mampu memberikan kepada
yang miskin sebahagian hartanya agar kesejahteraan menaunginya. Dari kedua anggapan ini sudah sangat jelas
kita bisa membedakan apa yang akan dilakukan oleh kedua orang tersebut. Mindset
yang terbangun dari kedua orang tersebut akan mempengaruhi hasil akhir dari
bisnis mereka dan bisa juga di prediksi mana diantara keduanya yang akan lebih
sukses.
Determinasi antara pikiran dan
perbuatan manusia ditopang oleh tingkat kesadaran maupun ketidaksadaran. Saya
membagi 2 determinasi tersebut dikarenakan pada tingkat kesadaran manusia
membutuhkan suatu sugesti-sugesti positif agar apa yang dia pikirkan itu
menjadi kenyataan(low of traktion). Ada pula pada tingkat ketidaksadaran dalam
mendapatkan apa yang diinginkannya. Pada tingkat ini, ketidaksadaran tersebut
sebenarnya sesuatu yang sudah ia idam-idamkan dahulu, dimana otaknya
memerintahkan tubuhnya untuk bekerja mendapatkan harapan maupun keinginannya.
Oleh karena mindset dipengaruhi atau
dibentuk pada persepsi-persepsi, nilai-nilai dan pengalaman seseorang. Maka
dari itu perlu kiranya masing-masing dari kita membentuk mindset dan membumikan
waktu luang yang lebih baik. . Mengutip perkataan
ippho santosa dalam bukunya 7 keajaiban rejeki memaparkan seperti ini “jika
keinginanmu selaras dengan lingkunganmu maka keinginanmu akan menjadi
bersayap”. Mindset bisa dibentuk dengan memperbanyak pengalaman seseorang,
terkhusus mahasiswa baru yang notabenenya labil dalam menghadapi dunia kampus.
Jika lingkungan mendukung keinginan seseorang, ia
akan dengan sangat mudah mendapatkan keinginannya dan jika memang niat mahasiswa berkuliah di kampus karena ingin
belajar maka sebagai mahasiswa yang memiliki tanggung jawab social, dibutuhkan
wadah untuk itu. Entah itu mengenyam organisasi intra maupun ekstra kampus.
Terserah mau menggunakan pendekatan apa. Meski demikian perlu di ingat bahwa
ada hal yang lebih urgen sebelum mebahas masalah lingkungan yang mendukung,
yakni bagaimana menciptakan lingkungan yang mendukung itu..?
Sebenarnya saya ingin menyampaikan
bahwa diperlukan suatu gerakan intelektual yang bisa menyadarkan pada diri
mahasiswa dan terkhusus untuk mahasiswa baru bahwa waktu luang perlu di isi
dengan membudayakan bedah buku. Jika masing-masing dari kita menyadari betapa
indahnya jika kita bekerjasama dalam mendefenisikan waktu luang itu adalah
bedah buku, maka lama kelamaan bedah buku di fakultas kita yang tercinta ini
akan membudaya, setelah ia membudaya dia akan menjadi populer dan setelah itu
menjadi kelaziman bahwa di fakultas ushuluddin, filsafat dan politik telah
mendefenisikan waktu luang adalah bedah buku.
Dengan nama pribadi, saya mengajak
teman-teman untuk bekerjasama dalam mendefenisikan waktu luang adalah bedah
buku. Jika kalian sepakat akan hal tersebut perlu kiranya saya memberitahukan
kepada teman-teman bahwa 3 minggu yang lalu aqidah filsafat semester 3 sudah
memulai bedah buku, 2 minggu yang lalu semester 5nya bedah buku dan
Alhamdulillah semester 1 perbandingan agama juga bedah buku di mulai hari senin
kemarin dan saya tegaskan bagi yang membaca tulisan ini bahwa mereka
menjalankan bedah buku secara rutin.
Ucapan
terima kasih
Terima
kasih kepada Muh. Ramli Sirajuddin, Nur Ramadhan Laudu, Andi Amairuddin, Muh.
Fadli, Nur Salim, Ikbal dan
senior-senior yang telah memberikan inpirasi ilmu, pengalaman dan
moralitas. Jika bukan karena kalian, mungkin sampai saat ini penulis tak pernah
bisa mengekspresikan diri.
Terima
kasih kepada HMJ Perbandingan Agama, karena kalian membuat saya dengan segera
harus menuliskan tulisan ini. Kalian telah memberikan saya inspirasi.
Terima kasih banyak karena menyempatkan diri untuk membaca
tulisan ini, semoga kita bisa menciptakan budaya bedah buku diwaktu luang kita.
SALAM BRILLIANT.
SETIAP GENERASI BERHAK MENGATAKAN GENERASINYALAH YANG TERBAIK
0 Komentar