MENGIKAT MAKNA UPDATE



Banyak manfaat yang saya dapatkan ketika membaca buku hernowo, ia sangat cakap dalam hal menjelaskan kepada kita tentang bagaimana mengikat makna yakni menyatupadukan antara membaca dan menulis. Termasuk apa yang saya lakukan kali ini merupakan praktek yang saya anggap sebagai hal yang bermanfaat. Buku ini mengingatkan saya pada seri buku quantum note taker karya bobbi de perter. Hernowo bagi saya telah berhasil menyatupadukan antara reference-meaning dan sense-meaning dalam istilah eric jensen. Jika membaca buku quantum note taker, anda akan diantarkan bagaimana cara mencatat briliant. Anda akan menemukan cara yang paling mudah untuk mendapatkan hal yang bermanfaat ketika mencatat, disisi kiri kita menuliskan apa yang bermanfaat dalam setiap yang kita pelajari(referenc-meaning) sedangkan disisi kanan kita menuliskan hal-hal yang kita anggap penghayatan maupun kecocokan makna agar memahami apa yang kita pelajari.
Menurut saya hernowo adalah sosok guru penulis saya. Dialah orang yang pertama kali mengajarkan saya tentang metode menulis yang menyenangkan. Dahulu buku pertama beliau yang saya baca pada saat semester dua waktu kuliah yakni mengikat makna. Buku itu berhasil memberikan saya manfaat untuk selalu menulis dalam kehidupan sehari-hari saya. Saya akui bahwa saya tidak pernah bertemu dengannya secara langsung tapi membaca bukunya saja saya sudah bisa membayangkan sosoknya hadir dikamar ini untuk menjelaskan apa yang dia ketahui. Memang keterbatasan ekonomi saya yang tidak mampu mengikuti seminar beliau membuat saya harus banyak membaca buku-buku karangan beliau. Tapi saya yakin, ketika nantinya saya menjadi penulis yang terkenal, saya ingin sekali bertemu dengannya.
Mengenai buku beliau mengikat makna ini saya banyak mendapatkan manfaat, apalagi ketika beliau mempraktekkan buku quantum writer. Tony buzan menulis buku mind mapping yang banyak digunakan oleh para penulis lainnya sebagai dasar menulis. Intinya hernowo menuliskan 3 hal yang ia bahas dalam bukunya. Pertama, membangun ruang privat. Kedua, menyatupadukan membaca-menulis. Ketiga, mengejar makna.
langkah pertama
Membangun ruang privat di dalam pikiran anda
Menurut hernowo membangun ruang privat adalah menganggap bahwa diri kitalah satu-satunya orang yang bisa membuat kita berubah, orang bisa menjadi besar ketika ia berani dan keberaniannya dipandu oleh cahaya yang dia miliki. Ruang privat tersebut merupakan sesuatu yang ada dalam benak kita, ia bukanlah kenyataan yang sesungguhnya. Jika dalam dunia nyata kita harus membuka diri kita pada orang lain dan berperilaku normal. Hernowo mengawali pembahasan membangun ruang privat ini dengan merujuk pada buku the 28 law of attraction: saatnya kesuksesan mengejar anda karya thomas j leonard dengan menggunakan kata selfish.  Menurut kamus webster selfish adalah memerhatikan diri sendiri secara tidak pantas atau secara berlebih-lebihan, mendahulukan kenyamanan dan keuntungan diri sendiri tanpa memerhatikan atau dengan mengorbankan, kenyamanan dan keuntungan orang lain.
Setelah menunjukkan reference-meaning kata selfish dari kamus webster, thomas mengatakan demi kesuksesan personal dan profesional anda, anda perlu menyerap cara baru dalam memandang sifat mementingkan diri sendiri yang mungkin akan membuat anda merasa terhalangi oleh defenisi orang lain yang perlu anda runtuhkan. Maka dari itu anda memerlukan sense-meaning agar anda bisa menghancurkan penghalang tersebut dengan makna baru yang anda hayati sendiri.
Kebiasaan yang harus anda lakukan adalah memiliki pengetahuan, keterampilan atau tindakan dan keinginan yang sangat kuat agar bisa merubah paradigma lama tersebut. Menurut hernowo mengikat makna merupakan paradigma baru yang dikemudian hari sangat bermanfaat bagi kita, apalagi saya secara pribadi. Hernowo mengatakan jika konsep menulis untuk diri sendiri bisa kita praktekkan dan bermanfaat maka kita harus mempersepsikan bahwa anda sendirilah yang bisa menghargai potensi yang dimiliki. 3 hal dasar menulis agar potensi diri mencuat adalah menulis untuk menyingkap diri, menulis untuk menjelajah diri dan ketiga menulis untuk mengungkapkan diri.
Syarat menulis untuk orang lain menurut hernowo ada 3 yakni, menyatupadukan membaca dan menulis, menemukan model atau tauladan dan memiliki sikap yang jujur, terbuka dan bertujuan.
Ada beberapa defenisi yang dituliskan oleh hernowo yakni, menulis adalah mengikat, mengonstruksi, menata, memproduksi, menggambarkan, menggali, menjabarkan, mengeluarkan dan membagikan.
Ambak dan selfish sama-sama berpijak pada menfaat untuk diri sendiri. Sudah dijelaskan bahwa anda hanya bisa melakukan sesuatu ketika anda mendapatkan menfaat untuk diri sendiri. Sebagaimana pembagian manfaat untuk diri sendiri yang dijabarkan oleh abraham maslow menurutnya bahwa ada tingkatan dasar dari motivasi manusia penghargaan diri, aktualisasi diri dan pengalaman puncak. Pada tingkatan-tingkatan tersebut kita sangat membutuhkan motivasi yang lebih tinggi agar semua yang kita lakukan dalam hal menulis dapat kita rasakan manfaatnya. Disinilah saya mendapatkan manfaat yang sangat berharga dari pembagian motivasi tersebut hanya saja saya masih memilah lebih jauh apa yang dijabarkannya, saya suka pendekatan yang dilakukan oleh kecerdasan majemuk oleh howard gardner tapi saya hanya mengembangkan kecerdasan intrapersonal dan kecerdasan interpersonal. Buku hernowo memberikan saya pelajaran penting tentang menjadi penulis briliant. Dalam tulisan inipun saya selalu mempraktekkan apa yang dijabarkan oleh hernowo. Yang saya bisa pahami seperti pembagian yang dilakukan oleh bobbi de porter.
Inti dari tulisan yang saya baca kali ini adalah mendapatkan kebahagiaan yang hakiki/ kebermaknaan, caranya yakni menuliskan apa yang ada dalam dirimu agar bisa menjadi pribadi yang briliant. Saya sepakat dengan hernowo bahwa dengan menulis diary kita akan mendapatkan banyak pelajaran karena pada saat itu hanya kita dan diri kita sendirilah yang dituliskan.
Kebahagiaan dan kesuksesan. Mungkin inilah kata yang sempat saya anggap mirip dengan apa yang dikatakan oleh hernowo tentang mengikat makna. Proses dan hasil selalu dijalani dengan bahagia/kebermaknaan. Akan tetapi hernowo menjelaskan kepada kita bahwa kita harus mendahulukan proses karena kita akan mendapatkan hasil yang sangat baik. Fokuskan diri pada proses hasilpun akan datang. Tapi bagi saya pribadi anda harus bisa menyeimbangkan hal yang anda lakukan. Terkadang kita juga harus memulai sesuatu yang memang membuat kita mendapatkan hasil yang sangat baik. Lalu lakukan prosesnya, tergantung juga sih apakah kita ingin dari proses ke hasil atau dari hasil ke proses tentu saja cara seperti ini adalah cara yang paling bijak untuk kita lakukan karena kita bisa mendapatkan hal yang membuat kita jauh lebih baik lagi. Tentunya keduanya adalah pikiran. Belum pada tindakan. Jika bertindak memang kita harus berproses.
Saya harus menjabarkan kepada anda bahwa kedua cara tersebut masing-masing memberikan manfaat kepada anda. Tentunya saya tegaskan disini bahwa ia sangat bermanfaat dalam pikiran kita. Tidak bisa kita pungkiri seseorang terbakar semangatnya karena memulai sesuatu dengan membayangkan hasil yang ia dapatkan setelah itu mencari pola agar berproses. Banyak kasus yang kita dapatkan dikalangan mahasiswa yang masuk di multilevel marketing mereka selalu di iming-imingi mendapatkan bonus jika mereka memiliki banyak down line. Beberapa diantara mereka memang berhasil jika mereka mengikuti pola yang sudah tersusun rapi tersebut. Begitu pula dengan seseorang yang memiliki pendapat tentang berproses yang baik maka hasilnya akan datang. Saya memiliki pengalaman seperti demikian, dengan selalu menjaga sikap yang baik kepada teman-teman di organisasi, mereka akan membantu saya dengan sendirinya. Waktu saya menerbitkan buku sekapur sirih tentang kemahasiswaan, saya bahkan tidak punya sama sekali inspirasi untuk mengumpulkan catatan-catatan saya di facebook. Justru inspirasi itu datang dari teman seorganisasi saya. Saya hanya melakukan sesuatu yang menutur saya memang membahagiakan yakni menulis.
Bagi saya pribadi kita harus selalu melihat sesuatu itu dalam kacamata pemahaman kita. Dalam benak kita keduanya bukanlah sesuatu yang salah, bukankah masing-masing orang memiliki caranya tersendiri agar ia meraih cita-citanya.? Terkadang saya risih membaca buku motivasi yang menyalahkan cara-cara tertentu meraih kesuksesan, padahal apa yang ia tulis hanyalah pengalaman pribadinya yang menggugah. Sebagai calon motivator saya harus membela setiap cara yang ada karena memang cara-cara setiap penulis motivasi itu berbeda.
Ingin rasanya mengajar motivator tersebut (tentunya yang seringkali menyalahkan cara yang lain) bahwa letak permasalahan bukan pada caranya tapi sejauh bagaimana seseorang memanaj pikirannya. Untuk saat ini saya tidak memiliki banyak kosa kata tentang memanaj pikiran berhubung saya juga tidak pernah membaca lebih jauh buku-buku mengenai itu. Tapi saya mendapatkan inspirasi seperti ini disaat saya membawakan kajian untuk adik-adik yang ada di mandar pitu.
Apapun defenisi saya saat ini mungkin masih akan saya up-grade dikemudian hari. Saat ini saya mendefenisikan memanaj pikiran adalah berupaya proporsional menilai tindakan kita yang sederhana agar kekecewaan akan kemampuan diri tidak kita anggap sebagai sesuatu yang menghinakan diri (sesungguhnya manusia itu mulia diciptakan). Contoh: didalam pikiran kita, kita bisa saja berada di atas ranjang. Tapi tindakan kita bagaimana.? Tentunya kita harus berjalan dulu menuju ranjang tersebut. Pikiran=besar dan tindakan=sederhana, step by step/perlahan-lahan.
Apa yang saya tuliskan ini sebenarnya tidak ada dalam buku hernowo hanya saja saya memasukkannya sebagai tambahan tentang bagaimana menciptakan ruang privat.
Jujur saja, saya sangat terpukau dengan penjelasan yang dilakukan hernowo agar kita membiasakan diri menulis dan membaca yakni mengikat makna. Saya ingat betul waktu pertama kali membawakan motivasi menulis kreatif. Waktu itu saya mengatakan kepada siswa polewali mandar, tahukah kenapa kita tidak menjadi penulis meski kita sangat berharap agar kita bisa menjadi penulis.? Saya dengan lantang mengatakan itu karena diri anda sendiri. Anda menganggap diri anda ini seperti apa? (dalam istilah saya identitas dan mungkin sudah lazim anda dengarkan). Itulah sisi ruang privasi. Saya mendapatkan pijitan empuk dan menyegarkan dipikiran saya selama membaca sisi-sisi ruang privat ala hernowo.
Berkat buku hernowo ini yang selama 2 bulan saya baca menyadarkan saya betapa indahnya menggabungkan membaca untuk menulis dan menulis untuk membaca. Saya akui selama 2 tahun terakhir ini hampir tidak ada lagi karya tulis. Penggalan-penggalan kutipan hernowo membuatku berpikir lama sehingga buku itupun lama saya baca. Bagaimana tidak, setiap kali ada hal yang menggugah yang saya baca dari hernowo saya langsung menghubungkannya dengan pengalaman pribadi saya.
Pada tanggal 24 september 2013 saya menulis resensi buku mindset revolution karya sri kumalaningsih. Dalam tulisan itu saya mengutip buku mestakung dan saya dengan lancarnya menulis “Saya Lupa Penulisnya”. Tulisan tersebut memang sengaja tidak saya edit karena mempraktekkan “kalau mau menulis ya menulis aja” ala kak muhammad ramli sirajuddin (ramest) yang mengajarkan saya pertama kali tentang menulis. Setelah tulisan itu selesai saya tulis, saya langsung share di facebook saya (Busman Briliant) dan menandai beberapa teman saya. Lalu ada teman saya berkata busman jujur tulisanmu itu menginspirasi, saya sangat tergugah. Oh iya saudara tadi ada saya baca kalau kamu lupa penulis buku mestakung padahal tulisannya sudah bagus tapi hanya gara-gara ini jadi kayak giamana ya. Itu bisa mengurangi bagusnya tulisanmu saudara.
Saya langsung tersentak dan menganggap enteng apa yang saya tuliskan itu. Lalu saya mengingat apa yang dikatakan oleh hernowo tentang mengikat maknanya menulis untuk membaca dan membaca untuk menulis. Beberapa menit saya menundukkan kepala dan merasa bersedih. Jika dari dulu saya membaca buku ini mungkin ratusan buku yang saya baca itu tidak terbuang sia-sia. Terkadang saya hanya mengingat warna buku, penulisnya, penerbitnya dan judulnya. Sangat jarang saya mengingat semuanya karena isi dalam kepala ini sangat banyak. Tapi dari kejadian ini saya bersyukur bahwasanya telah menyadari betapa pentingnya mengikat makna saya lakukan dikemudian hari. Saya mengingat kembali tentang memanaj pikiran. Saya harus selalu mensyukuri kemampuan saya dan meninggikan kualitas kemampuan saya. Saya tidak mau hanya gara-gara seperti ini saya harus menganggap diriku yang terpuruk. Sayapun berterima kasih kepada sahabat saya, namanya Lia “AMPUTASI” karena membuatku selalu memikirkan buku hernowo yang begitu lama saya baca ini.
Membangun ruang privat...
Saya berusaha lebih memudahkan lagi buku hernowo ini kepada sahabat briliant dengan metode selftalk. Saya selalu bertanya pada diri jika ingin memahami apa yang dimaksud oleh penulis.
+Bisakah diri anda membayangkan diri anda yang terdalam.?
+Apa yang anda syukuri pada diri anda..?
+Apa yang membuatmu bahagia? dimana bersama atau tanpa keuntungan anda tetap bahagia
Setelah itu hubungkan jawaban anda dengan mengikat makna ala hernowo.
++Apakah membaca dan menulis mampu membuat anda melacak diri anda yang terdalam? Jika jawabannya sesederhana antara ia dan tidak (karena saya tidak tahu apa jawaban anda), maka bertanyalah lagi pada diri anda lantas bagaimana caranya agar menulis dan membaca bisa membuatku mengenal diriku yang terdalam?
++bagaiman memasukkan api semangat dalam membaca dan menulis? Agar saya bisa mensyukurinya
++bagaimana memasukkan kebahagiaan kegiatan membaca dan menulis? Apakah aktivitas ini adalah kebahagiaan padaku.?

Jawablah pertanyaan itu dan cari tahu caranya. Karena menurut saya, anda akan mudah memahami apa yang dituliskan oleh hernowo tentang membangun runag privat.
Tambahan bagi saya pribadi. Pahami apa yang saya jabarkan tentang memanaj pikiran, itu tambahan saya tentang ruang privat ala hernowo.
Langkah kedua
menyelenggarakan kegiatan membaca dan menulis secara bersamaan
Ketika saya membaca buku ini tidak satupun cara yang dipaparkan oleh hernowo tentang bagaimana menuliskan buku yang kita baca dan bagaimana membaca untuk menulis. Kebanyakan dari semua yang dia paparkan adalah hasil dari buku yang sudah dia terbitkan. Meski demikian saya bisa langsung memahami apa yang ingin disampaikan oleh hernowo dengan hanya memikirkan tentang ruang privat.
Membaca memberikan kita beberapa konsep dalam benak kita agar bisa kita tuangkan dalam suatu tulisan. Seseorang akan mengalami kesulitan dalam hal menulis jika ia sendiri tidak membaca. Terkadang keinginan yang sangat kuatpun harus ditopang dengan pengetahuan maupun skill kita.
Ada beberapa hal yang dipaparkan oleh hernowo tentang melakukan kegiatan membaca dan menulis secara bersamaan. Penekanan hernowo adalah melakukan kegiatan mengikat makna secara kontiniu dan konsisten. Mengikat makna adalah hasil inspirasi yang dia dapatkan dari ali bin abi thalib. Ikatlah ilmu dengan menulisnya. Ketika hernowo mendapatkan hal tersebut ia langsung mencari pola seperti apa itu mengikat makna.
Meng-update makna dari mengikat makna perlu dilakukan karena manusia senantiasa melakukan perubahan kualitas jati dirinya. Mengikat makna yang pertama dia terbitkan berbeda dengan mengikat makna update.
Menurut hernowo menulis akan mudah kita lakukan jika dibarengi proses membaca karena membac memberikan kita stok kata. Khazanah kata-kata masih sangat banyak bisa kita gunakan agar kita bisa melakukan proses menulis. Membaca memasukkan ilmu dalam pikiran kita sedang menulis mengeluarkan ilmu/makna yang kita ketahui.
Melakukan proses membaca dan menulis juga harus disertai dengan cinta akan kegiatan tersebut. Ilmu kita butuhkan yang artinya kita memperolehnya dari membaca, mencintainya dan melakukan proses menulis. Hernowo menyinggung bahwa perlu dibedakan antara proses belajar menulis dan mempraktekkan menulis. Dia sebut sebagai konsep dan teknik, kedua kata ini sangat menggugah saya karena bisa membedakan antara bagaimana mendapatkan konsep menulis dan bagaimana mendapatkan teknik menulis. Dan tentunya keduanya adalah upaya agar kita sebagai pembaca berusaha mempraktekkan apa yang kita ketahui.
Semenjak saya membaca buku hernowo, saya sangat kewalahan karena setiap penjabaran dia banyak yang diulang-ulangi dan kurang konsisten membahas apa yang meskinya ia bahas. Mungkin karena ini adalah bentuk ketidak pahaman saya dari buku itu. Jujur saja, itu juga yang terkadang membuat saya lama membacanya. Meski demikian saya tetap saja melanjutkan bacaan saya.
Ketika membaca buku ini saya langsung mempraktekkannya ke buku yang lain meski buku ini belum selesai saya baca, tapi ternyata berhasil saya lakukan. Beberapa kali saya berpikir jika seandainya buku ini berhasil saya praktekkan, pasti saya sangat maju. Bayangkan saja, saya bisa menulis 2 tulisan dalam sehari yang masing-masing melebihi 10 halaman.
Biasanya saya kewalahan menulis, meski sudah banyak buku yang saya baca tentang metode menulis. Saya mendapatkan perbedaan buku yang dikandung oleh hernowo dengan buku-buku motivasi menulis lainnya. Hernowo sama sekali tidak memberikan saya tugas untuk dipraktekkan. Dengan sendirinya saya langsung ingin mempraktekkan buku mengikat makna up-date ini. Tidak seperti buku yang lain, rata-rata buku motivasi menyuruh kita untuk menuntaskan tugas-tugasnya agar kita terbiasa menulis.
Jujur, sekarang saya menulis buku menjadi penulis briliant dengan metode yang lazim digunakan oleh motivator. Mungkin saat ini kemampuan saya tidak seperti hernowo makanya saya harus realistis melihat kemampuan saya. Intinya saya masih membaca dan menulis secara kontinu dan konsisten.
Karena hernowo tidak menjelaskan secara tegas dalam buku ini tentang memaksimalkan buku yang kita baca, saya tertaik untuk mencoba menjelaskannya. Ketika saya membaca buku apapun saya selalu menggunakan pena sebagai ala menunjuk dan menandai kata yang menginspirasi, penting, ilmiah atau kutipan yang saya sukai. Beberapa kali saya membaca ulang setiap yang sudah saya tandai tersebut dan mencoba memikirkan ulang. Memang proses membaca ini agak lama ketimbang proses membaca normal. Tapi ini sangat efektif untuk digunakan, karena kita akan menggunakan sense-meaning kita dalam kutipan yang kita tandai tersebut.
Sekarang saya suka meresensi buku karena terinspirasi oleh hernowo dan cara ini pulalah yang saya gunakan sehingga 2 tulisan saya bisa saya terbitkan dan share di facebook. Meski saya tidak menyempatkan diri untuk mengedit setiap tulisan saya, tapi dikemudian hari saya akan membaca ulang setiap tulisan saya dan berusaha untuk mengeditnya.
Dahulu saya hanya mengutip beberapa kata-kata yang penting dari setiap buku yang saya baca setelah itu saya kutip ketika saya mau menulis. Sebenarnya semua orang punya cara tersendiri tentang bagaimana kita bisa memaksimalkan hasil bacaan kita. Asalakan kita selalu mempraktekkannya dan konsisten dengan mengikat makna ala hernowo.
Mengenai membaca saya punya catatan lain di akun facebook saya (Busman Briliant), dulu saya beri judul the secret of read tapi kini saya ganti menjadi tentang membaca. Tulisan itupun sampai sekarang belum saya edit. Silahkan membacanya dan dapatkan makna dari catatan tersebut.

Langkah ketiga
Berusaha sekuat daya untuk meraih makna
Hernowo memilih kata mengeksplorasi makna dalam langkah ketiga ini. eKSPLORASI aku teringat dengan organisasi kebanggaanku yang menjadikanku seperti sekarang ini. Organisasi yang membuatku sadar bahwa ternyata diriku adalah orang yang sangat bodoh. Waktu dikader di organisasi itu beberapa kali menangis karena tidak mampu menjawab pertanyaan senior. Kak nur ramadhan laudu menyelamatkan saya waktu presentasi. Katanya saya sudah lama berada diatas, padahal saya ingat betul bahwa saya naik presentasi sekitar 5 menit saja. Saya tidak mampu menjawab pertanyaan senior seputar apa itu gerak. Saya harus menjawab pertanyaan senior secara filosofis. Bayangkan saja saya diharuskan menjawabnya secara filosofis, padahal saya sendiri tidak pernah belajar filsafat, waktu itu saya menunggu kelulusan sekolah menengah atas. Bersamaan dikader dengan senior yang sudah sering mendapatkan kajian. Ditempat yang lain saya menangis di masjid, waktu itu saya pergi shalat isya sembunyi-sembunyi (tidak berjamaah di ruang kader) karena saya ingin mempertanyakan ulang semua hal yang saya dapatkan dipengkaderan tersebut. Kenapa kalian membahas tentang tuhan? Kenapa kalian menggunakan akal untuk bertuhan? Coba tanyakan saya tentang ayat al-quran pasti saya tahu. Berkecimuk didada saya semua pertanyaan senior, saya hanya bisa menangis untuk menjawabnya.
Setelah pengkaderan usai saya memperlihatkan kemanjaan, kekanak-kanakan dan mencuri perhatia hanya di organisasi ini. Berhara agar senior membantu saya untuk ditemani diskusi atau sekadar ditemani bicara. Saya tidak tahu kenapa muncul cita-cita pertama saya yakni ingin menjadi penulis, saya mengatakan cita-cita pertama saya karena memang selama ini saya tidak pernah memiliki cita-cita.
Kata ekplorasi tidak bisa saya lupakan.
Hernowo merujuk bukunya yang diterbitkan olehpenerbit hikmah yang berjudul 7 warisan berharga. Kesemua 7 warisan berharga tersebut awalnya diharakan untuk anak-anak hernowo.

Pertama, mengekplorasi makna nama diri
Kedua, mengeksplorasi makna hari kelahiran
Ketiga, mengeksplirasi makna kehidupan masa kesil
Keempat, mengekplorasi makna menetap disebuah rumah
Kelima, mengekplorasi makna belajar disekolah
Keenam, mengekplorasi makna menjadi orang indonesia
Ketujuh, mengekplorasi makna menjadi diri sendiri
Dari ketujuh warisan berharga yang dijabarkan hernowo, rasa-rasanya saya tertarik menuliskan 2 warisan berharga saja, yakni mengeksplorasi makna nama dan yang kedua mengeksplorasi makna menjadi diri sendiri.
Mengeksplorasi makna nama.
Waktu membawakan materi pemuda dan tantangan zaman di organisasi daerah pangkep. saya mengatakan kepada mereka, rata-rata diantara kita selalu mencari tahu tentang sejarah suatu negara. Sangat jarang diantara mereka yang tahu apa sebenarnya sejarah hidupnya apalagi sejarah namanya. Apa makna yang terkandung dalam nama tersebut.
Nama saya busman arifin, orang tua memberikan nama tersebut karena ayah saya bersuku bugis dan ibu bersuku mandar. Saya merasa bahagia mendapatkan nama tersebut karena saya menganggap bahwa nama saya diabadikan dari pertemuan mereka. Seolah diriku hadir sebagai sosok yang menghubungkan mereka. saya anak ketiga dari 5 bersaudara sealigus anak laki-laki pertama. Ketika saya mengeksplorasi makna nama saya beberapa kosa kata muncul sebagai gambaran nama tersebut. Pertemuan suku yang berbeda, jalan tengah, bijaksana dan pemimpin keluarga. Dari keempat ini saya menyimpulkan bahwa tanggung jawab yang saya emban sangat berpengaruh dikeluarga. Saya tidak menanyakan lebih jauh apa harapan orang tua saya memberikan nama tersebut, tapi hal yang paling pasti yang saya ketahui adalah orang tua bersuku BUgiS MANdar.
Ketika mengeksplorasi makna nama saya, saya  mendapatkan makna jalan tengah. Hal ini menyangkut tentang susahnya bertemu karakter bugis dan karakter mandar, terkadang sesepuh masing-masing etnis menganggap bahwa etnisnyalah yang lebih baik. Sampai-sampai terkadang saya mendengar jangan menikah sama orang bugis (jika sesepuh mandar), dan begitupun sebaliknya jangan menikah sama orang mandar (jika sesepuh bugis). Saya terkadang terheran dan merasa risih mendengar anggapan demikian, seolah-olah ukuran dari kemuliaan manusia adalah etnisnya. Terkadang saya bertanya apa betul keduanya begitu luar biasa sampai-sampai beranggapan seolah mereka memiliki strata sosial yang lebih tinggi, sadarkah mereka bahwa kita ini orang indonesia.? Saya harus membijakinya, dengan mencari apa hal yang masing-masing etnis tersebut miliki, saya mendapatkan kata siri’ yang berarti MALU pada hal-hal yang menghinakan diri. Ketika saya memikirkan kata siri’ tersebut saya mendapatkan makna lagi bahwa malu itu harus kita bagi menjadi sisi positif dan sisi negatif. Sisi negatif malu adalah tidak mudahnya berkembang dan akan memberikan efek staknan, sedangkan sisi positif malu adalah menjaga norma yang positif. Maka dari itu saya berkesimpulan bahwa yang dimaksud siri’ itu menyembunyikan hal negatif dan memperlihatkan kepositifan. Saya adalah anak ketiga dari lima bersaudara, posisi saya berada ditengah-tengah saudara saya. Itulah makna yang saya eksplorasikan.
Eksplorasi makna nama saya yang lain adalah bijaksana, saya mengatakan demikian karena ciri-ciri orang bijak adalah ia mampu menggabungkan dua sisi yang berbeda dengan adil. Memang begitulah adanya saya ketika di keluarga maupun di organisasi. Saya selalu berada pada titik yang paling netral (dalam artian mampu memperlihatkan kebenaran), meski pemalu tapi mudah bergaul dan santai dalam menyelesaikan masalah. Dikehidupan keluarga, sayalah orang yang paling bisa didengar jika saya dilibatkan urusan keluarga karena sesekali saya memang tidak mau terlibat, terkadang saya serius dan terkadang saya bercanda. Bahkan saudara-saudari saya, tidak mengetahui seperti bagaimana saya ini sebenarnya. Begitu juga dikehidupan organisasi, saya selalu memegang posisi kunci dan menjadi starter awal. Saya pernah mengatakan kepada senior bahwa saya ini bagaikan gelandang dalam persepakbolaan.
Eksplorasi nama saya yang lain adalah pemimpin, hal itu saya dapatkan karena saya adalah anak pertama laki-laki. Ketika saya mengeksplorasi makna nama saya tersebut saya bisa mendapatkan sisi yang berhubungan satu sama lain. Termasuk pemimpin, karena biasanya dalam keluarga laki-lakilah yang menjadi pemimpin rumah tangga. Nama itu sangat mempengaruhi segala aktifitas saya di dalam kampus maupun dikehidupan keluarga. Dalam kehidupan saya sehari-hari, seringkali menjadi ikon dalam urusan-urusan penting, apalagi di organisasi. Di organisasi saya selalu menjadi pengurus yang memiliki posisi strategis, saya selalu menjadi koordinator bidang keilmuan disetiap organisasi yang saya geluti.
Nama panggilan saya dikampung adalah intong, nama tersebut diambil dari hobi bapak saya yang suka bermain bulu tangkis. Bahasa inggris dari bulu tangkis adalah badminton, dari sanalah nama saya dipetik. Hanya saja ketika saya berada di makassar menuntut ilmu dikota besar ini, salah satu senior saya kanda nur ramadhan laudu memberikan saya sebutan entong. Dari intong dirubah menjadi entong sampai sekarang orang mengenal saya dengan nama itu, akan tetapi ketika saya berada di forum resmi nama busman arifinlah yang saya gunakan.
Sekarang setelah saya seringkali mengeksplorasi nama saya, saya selalu meng-update nama saya. Setiap nama yang saya gunakan, saya selalu menyimbolkan dengan kata yang menurut yang unik. Nama lengkap busman arifin saya rubah menjadi busman briliant. Waktu saya mengganti nama akun facebook pribadi, ada seorang teman dumay bertanya “kak kenapa diganti menjadi busman briliant? Saya jawab selain karena saya ingin agar kata briliant ini melekat pada diri saya, briliant itu memiliki makna yang sama dengan arifin, mungkin yang satu adalah bahasa arab dan yang satunya lagi bahasa inggris. Sedangkan di nama saya yang satunya saya beri nama entong eksplorasi. Saya suka menjelajah ilmu baru, si entong yang pendiam tapi ceria waktu semasa di kader di eKSPLORASI menjadi pelekat nama saya. Saya mengabadikan nama organisasi kebanggaan saya. Saya memiliki 2 akun facebook yang masing-masing berbeda karakter.
Itulah beberapa yang bisa saya bagikan kepada teman-teman ketika saya mengeksplorasi makna nama saya. Saya sangat berharap dari contoh yang saya paparkan ini menjadikan diri teman mampu mengeksplorasi makna nama. Tentunya sekali lagi ruang privat hernowo perlu menjadi standar kita. Kata hernowo ruang privat dan ruang publik masing-masing harus dijaga. Dan sekali lagi saya tekankan bahwa perlu kiranya memandangnya secara holistik dan spesifik.

Mengeksplorasi makna menjadi diri sendiri.
saya suka mengistilahkannya dengan sebutan identitas. Dalam catatan saya yang lain pemuda dan tantangan zaman, saya mengatakan bahwa seorang pemuda harus mengetahui identitasnya sebagai manusia sebagai alat filterisasi sesuatu yang tidak kita inginkan masuk dalam diri kita. Ketika menulis catatan ini saya langung teringat dengan catatan tersebut, karena menurut saya, pembagian secara umum belum terlalu lengkap. Dicatatan itu membagi identitas menjadi 2 yakni secara ideal dan secara realistis. Rasa-rasanya dalam kesempatan ini saya harus meng-update pemikiran tersebut. Mungkin inti dari pembagiannya masih sama, hanya saja penggunaan istilah yang saya gunakan sudah berbeda.
Tentunya rumusan konsep identitas ini berawal dari prinsip hidup yang saya miliki, yakni lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan dan lebih baik menyalakan lilin daripada menyanjung terang. Memberikan daya kepada diri agar selalu berbuat semampu kita dan tetap menjadikan sesuatu yang sakral menjadi penopang gagasan. Dari prinsip hidup ini, saya sudah bisa membagi identitas. Saya menggunakan istilah yang disepakati oleh hernowo yakni reference meaning dan sense meaning.
Apa itu manusia.? Untuk mengetahui identitas kita, perlu kiranya menjawab pertanyaan ini. Saya selalu memulai sesuatu secara filosofis karena bangunan-bangunan argumentasinya sangat sederhana. Jika kita merujuk buku-buku filsafat maka kita akan menemukan keragaman defenisi manusia, ada yang  manganggap manusia adalah makhluk penyayang, rasional, berakhlak, memiliki hati, mampu menyelesaikan masalah dan lain-lainnya.
Pada pertanyaan apa itu manusia saya suka dan bahkan sangat sepakat dengan argumentasi yang dipaparkan oleh filosof iran murtadha muthahhari. Ia mendefinisikan manusia sebagai makhluk yang mengembangkan ilmu dan imannya untuk membentuk peradaban. Menurutnya apapun defenisi kita tentang apa itu manusia merupakan jawaban yang benar dari segi eksistensinya. Hanya saja agar tidak menimbulkan kerancuan maka dibutuhkan suatu defenisi yang mewakili semuanya.
Ketika membaca buku murtadha tersebut saya langsung terinspirasi dan mengikatnya dalam catatan kecil saya. Dalam catatan lain pemuda dan tantangan zaman, saya masih membagi identitas secara ideal dan realistis tapi sekali lagi karena saya mengubahnya demi kebutuhan meng-update pemikiran, saya menggunakan istilah reference meaning dan sense meaning.
Reference-meaning adalah makna yang kita dapatkan dari orang lain, buku, atau apapun yang masuk dalam benak kita, maka dari itu perlu kita bagi menjadi dua, ada yang secara bermakna tinggi ataupun bermakna lebih rendah dari apa yang kita hayati atau sense meaning. Saya menganggap bahwa apa yang dijelaskan oleh murtadha merupakan hal yang tinggi atau terang sedangkan mungkin saja defenisi yang lain adalah defenisi yang rendah atau gelap dari apa yang kita hayati.
Sense meaning kita perlu dimanaj secara baik dan sejujur-jujur kita karena disitulah kemampuan yang kita miliki. Saya selalu mengatakan bahwa saya adalah busman arifin penulis dan motivator sekaligus pekerja yang cerdas dan solutif. Inilah identitas yang saya hayati sejujur dan sebaik mungkin yang bisa saya lakukan.
Saya perlu jelaskan tentang prinsip hidup yang saya miliki tersebut dengan mengambil sample identitas ini. Pertama, Lebih baik menyalakan lilin (identitas saya) daripada mengutuk kegelapan (apapun gagasan yang tidak saya sepakati) dan yang kedua, lebih baik menyalakan lilin daripada menyanjung terang (hal yang terlalu ideal yang tidak mampu saya lakukan). Pada prinsip pertama, berawal dari seringnya saya melihat orang yang pesimis memandang hidup, banyak saya temukan mahasiswa yang hanya bisa berkoar-koar akibatnya mereka tidak melakukan satu permasalahanpun. Dan pada prisip kedua, berawal dari seringnya saya melihat banyak orang yang arogan yang seolah menganggap dirinyalah yang benar. Saya kuliah di uin makassar fakultas filsafat, saya selalu berhadapan dengan orang yang selalu menganggap bahwa kelompoknya, mazhabnya sajalah yang benar sedangkan yang lainnya salah ataupun sesat. Saya menganggap bahwa kurangnya pemahaman pluralisme itu membuat mereka tertutup akan ilmu-ilmu yang lain. Khusus prinsip kedua ini saya tekankan bahwa bukan pemikiran idealnya yang saya salahkan tapi sikap yang ditawarkan.
Saya tetap menganggap bahwa apa yang menjadi defenisi dari murtadha muthahhari sebagai sesuatu yang terang, hanya saja saya juga punya kemampuan sendiri secara jujur dan berupaya realistis memandang kemampuan.
Prinsip ini memiliki makna yang konsisten dan fleksibel. Jika saya mengeksplorasi diri saya sendiri dan menemukan suatu kemampuan yang meningkat maka saya mengganti lagi identitas saya. Letak konsistennya memberikan saya pemahaman bahwa ada beberapa gagasan yang harus saya filter. Jika ada yang baik dan saya mampu maka saya pasti mengambilnya. Itulah sebabnya saya selalu merasa bahagia jika membaca maupun menulis, saya menganggap kegiatan ini sebagai bunga hidupku. Bertemu mereka dalam dunia teks, berdiskusi dengan mereka. Begitupun ketika saya menulis, saya berharap agar yang membaca catatan saya bisa melampaui apa yang saya tulis.
Dimensi diri,
Saya merujuk pemikiran murtadha muthahhari tentang konsep dirinya, dalam buku manusia dan alam semesta. Bahwa ego manusia itu dibagi menjadi beberapa, mulai dari ego sentris, ego keluarga, ego suku, ego bangsa dan ego kesemestaan. Semakin tinggi ego anda maka semakin luas pula jangkauan anda dalam berbagi kebahagiaan. Ketika hernowo menjelaskan tentang eksplorasi mekna diri sendirinya saya terpukau karena hernowo bisa sampai pada ego kesemestaan.
Bisa anda baca, sampai dimanakah ego yang saya miliki, maka dari itu ijinkan saya mengulang prinsip hidup saya yakni lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan dan lebih baik menyalakan lilin daripada menyanjung terang.
Untuk mengakhiri catatan ini saya mengutip kata briliant saya, ketahuilah bahwa tulisan yang kalian baca tidak pernah bertumbuh. Berpikirlah untuk melampauinya karena kuyakinkan diriku bahwa yang kutulispun telah kulampaui.
Salam briliant.
Busman arifin
28 september 2013


           

0 Komentar