Mindset revolution
Saatnya
berubah!
Cara
baru melihat peluang dari lingkungan.
LinguaKata
surabaya 2008
Karya
sri kumalasari
seorang yang
menghabiskan waktunya untuk masyarakat tertinggal agar memperbaiki mindsetnya.
Ketika
membaca buku ini saya sangat senang karena sri kumalaningsih mampu meyakinkan
teori yang rumit menjadi sederhana. Teringat dengan apa yang dikatakan oleh
paul stratern dalam bukunya 90 menit bersama machiavelli, ketika mengkritik
teoritikus (machiavelli dan guru politiknya leonardo da vinci “ketika teori
tidak bisa diaplikasikan maka aplikasinya yang salah”. Menurut paul stratern
itu adalah kesalahan besar teoritikus karena semua yang ia pikirkan belum tentu
betul-betul sesuai dengan lingkungan.
Bisa
dikatakan bahwa apa yang dikatakan oleh paul stratern ini ada benarnya jika
suatu teori yang rumit dan gelimet berusaha untuk dipraktekkan. Mungkin
masyarakat kita akan sulit mendapatkan ilmu yang dijelaskan jika penyampaian
begitu sulit bagi kita. Akan tetapi ketika membaca buku sri kumalaningsih,
begitu sangat ringan dan menggugah diriku untuk menerapkan apa yang dia
jabarkan. Bahkan saya mendapatkan inspirasi dari membaca buku ini yakni
cukuplah diriku yang mendapatkan kerumitan setiap buku, tugasku adalah
memudahkan setiap buku yang kubaca. Menyampaikan –diskusi maupun menulis–
dengan cara yang mudah dimengerti. Saya tidak tahu seberapa besar tingkat
kecerdasan yang dimiliki oleh sri kumalaningsih ini.
Cukuplah
vicky (mantan pacar zaskia gotik) menjadi bahan tertawaan masyarakat dalam menggunakan
istilah ilmiah. Sayanganya bahasa ilmiah masih sangat tabu bagi kalangan umum
masyarakat indonesia. Maka dari itu, sebagai penulis yang masih memperhatikan
keintelektualan, saya diharuskan untuk menggunakan bahasa ilmiah yang
secukupnya saja agar menjaga keterpahaman masyarakat dan sebagai akademisi.
Buku
ini memperlihatkan cara baru agar kita bisa menyejahtrakan masyarakat. Dengan
menggunakan konsep O3m: open mind, opposite start,
opportunity dan management. Tapi sebelum
kita lebih jauh membahas tentang konsep tersebut ada baiknya kita menjelasakan
salah satu apa yang menjadi inti dari harapan ibu sri kumalaningsih. Yakni
mengubah egosentris menjadi lingkungansentris. Cukup dengan merenungi salah
satu ukiran disebuah makam di
westminter abbey, inggris 1100M). Saya mengabadikannya di halaman pribadi saya
dan Mungkin halaman ini bisa memberikan banyak inspirasi kepada anda https://www.facebook.com/notes/briliant-consultant/khayalan-untuk-berubah/184180001765306
.
khayalan untuk berubah
suatu hari saat aku masih muda
aku berkhayal
bagaimana aku bisa ke bulan
aku sangat sedih karena
ternyata dunia tak kunjung berubah
setelah aku dewasa dan punya
sedikit kepandaian
aku kurangin cita-citaku yang
muluk itu
aku berniat mengubah negeriku
tapi cita-cita itu hasilnya
justru terbalik,
negeriku makin terpuruk.
saat ini setelah sudah beranak
cucu
dengan semangat yang masih ada
aku ingin mengubah keluargaku,
teman-temanku dan lingkunganku
ternyata merekapun tidak mau
diubah.
setelah usiaku semakin senja,
dengan semangat yang masih
tersisa tiba-tiba kusadari
bagaimana kalau yang
pertama-tama kuubah adalah diriku
maka dengan menjadikan diriku
sebagai panutan,
mungkin aku bisa mengubah
keluargaku dan lingkunganku
lalu berkat dukungan dan
dorongan mereka siapa tahu
aku bisa memperbaiki negeriku
kemudian siapa tahu mimpiku
terwujud
aku dapat mengubah dunia
mengubah
mindset dari egosentris ke lingkungansentris tidak serta merta kita pilah
dengan opposisi binner semata. Melainkan melihatnya secara holistik bahwa
antara keduanya merupakan sesuatu yang saling mempengaruhi.
Kerika
berusaha mencari pola berpikir briliant, saya selalu berusaha meng-update
setiap saat apa makna dari berpikir briliant itu..? untuk saat ini pola yang
kudapatkan adalah pola berpikir proporsional dan mampu memilah sisi holistik
maupun spesifik dari setiap sesuatu. Lantas apa hubungan berpikir briliant ini
dengan perubahan mindset yang mencoba dilakukan oleh ibu sri kumalaningsih.? Tentang
perubahan mindset dari egosentri ke lingkungansentris.
Bagi
saya lihatlah pada kedua hubungan kata tersebut. Kita harus bijak terhadap
setiap pemahaman seseorang tentang seperti apa itu egosentris dan
lingkungansentris. Ada yang melihatnya dengan cara se-spesifik mungkin,
akibatnya membedakan keduanya secara jauh. Adapula yang melihatnya secara
holistik dimana ia menganggap bahwa keduanya merupakan sesuatu yang saling
terhubung. Proporsional-lah melihat keduanya.
Hal
ini juga berhubungan dengan pembagian dasar motivasi yakni motivasi intrinsik
dan motivasi ekstrinsik. Dalam buku mengikat makna karya hernowo ia menjelaskan
bahwa penting bagi kita untuk mempertimbangkan manfaat untuk diri kita ketika
memulai sesuatu dan pengakuannya bahwa motivasi intrinsiklah yang paling
mempengaruhi hanya, saja perlu memiliki
sense-meaning terhadap kata itu. Kalau saya boleh memberikan penilaian, hernowo
memandang keduanya secara holistik.(kesimpulan dari halaman 20-30).
Dalam
sambutan sri edi swasono (bappenas, guru besar ui) menyatakan bahwa prof. Sri
kumalaningsih memiliki keyakinan kerjasama antara si kaya dan si miskin terjadi
interdependensi sinergis bukan dependensi subordinat. Maksudnya kerjasama
tersebut mendahulukan kesejahtraan bersama dan tetap memerhatikan kesejahtraan
pribadi.
Maka
dari itu mindset kita perlu diubah dari egosentris ke lingkungansentris
(kayaknya ibu kumalaningsih melihatnya dengan kacamata spesifik hal ini karena
ia melihat betapa kerasnya budaya persaingan). Tapi saya tidak berusaha untuk
menjelaskan lebih jauh apa yang selama ini saya baca dari buku ibu sri
kumalaningsih tersebut.
Kita
sudah melakukan beberapa pendekatan tentang egosentris maupun lingkungansentris
dan beberapa perbedaan jika dibedakan dan beberapa persamaan jika disamakan.
Kini kita memasuki apa yang menjadi inti dari buku ini yakni konsep O3M dari
ibu sri kumalaningsih.
Open
mind (membuka pikiran)
Membuka
pikiran merupakan hal yang paling penting jika kita ingin masyarakat kita bisa
mandiri dan mampu melakukan hal-hal yang berkualitas dan tentunya kuantitas
juga masih kita pentingkan. Budaya kita adalah gotong royong dimana kita saling
membantu satu sama lain, saling mengisi kekurangan dan saling menopang apa yang
kita miliki.
Kompetisi
membuat kita sangat egosentris dan hal ini akan menjerumuskan manusia agar
saling bekerja sendiri-sendiri. Menurut ibu sri kumalaningsih kita tidak akan
bisa mandiri jika hal seperti ini yang kita lakukan, maka dari itu kita harus
membuka pikiran kita agar bisa saling kerjasama. Hal yang kita ikat dalam
lingkungansentris ini adalah kualitas dan kuantitas kita menjadi janji dan
prioritas utamanya.
Saya
sangat sepakat apa yang dikatakan oleh ibu sri kumalaningsih bahwa persaingan
tidak akan membuat kita bisa mandiri dalam bermasyarakat. Dalam buku mengikat
makna hernowo pun sepakat dengan apa yang dikatakan oleh zohar dan marshal
dalam buku spiritual capital bahwa orang yang memiliki semangat persaingan hanyalah
kebutuhan tingkat yang paling dasar (deficiency need). Apalagi ibu
kumalaningsih juga berpendapat seperti demikian dengan pengalamannya menghadapi
hidup ini.
Ia
dahulu selalu menganggap bahwa jabatan akan membuatnya meningkat dari strata
sosial, tapi pada akhirnya ia merubah semua anggapan tersebut. Masyarakat
seringkali menganggapnya bahwa ia tidak pantas untuk bekerja keras, menurutnya
gagasan tersebut adalah gagasan yang salah dan harus dirubah, seharusnya orang
kaya dan cerdas menempatkan dirinya sebagai bagian pada masyarakat.
Opposite
start (berangkat dari arah yang berlawanan)
Saya
memahami kata diatas ketika menghubungkannya dengan buku mestakung karya lupa
penulisnya. Mestakung adalah ringkasan dari kata semesta mendukung. Dalam buku
itu disebutkan jika kita dalam keadaan kritis kita akan menemukan cara untuk
meraih apa yang kita inginkan karena dengan seperti itu kita bisa memberanikan
diri untuk melakukan sesuatu. Bukan hanya itu, saya juga bisa menghubungkan
dengan buku the power of kepepet, dengan kata yang sama bahwa dalam kondisi
kepepet seseorang akan memaksakan dirinya atau dayanya melakukan sesuatu.
Maksud
dari kata opposite start (berangkat dari arah yang berlawanan) adalah ketika
kita ditimpa suatu masalah maka kita akan mencari jalan keluarnya. Misalkan
yang terjadi pada penampung kayu ketika rumahnya kebakaran justru ia
mendapatkan inspirasi bagaimana kalau kayu ini dijadikan arang, ia mengajak
warga untuk membuat arang.
Kita
harus selalu mempertanyakan diri kita kenapa kita gagal, kenapa hal ini terjadi
pada diriku dan apa hal yang harus kurubah ketika kondisi ini menimpa hidupku.
Semua
pertanyaan-pertanyaan itu adalah permulaan dari sesuatu yang berlawanan pada
diri kita. Orang sukses harus meninggalkan zona nyamannya. Yang artinya
kebiasaannya harus dirubah dengan tindakan-tindakan yang lebih berkualitas.
Opportunity
(peluang)
Melihat
peluang merupakan hal yang tersulit dilakukan oleh beberapa orang dan memang
seperti itulah kenyataannya. Dibutuhkan kejelian yang sangat tajam tentang hal
ini. Bagi saya pribadi bahwa hal semacam itu tidaklah benar, jika kita
mengetahui pilihan hidup kita maka kita akan mudah mendapatkan peluang dari apa
yang semestinya ingin kita raih. Saya menganggap demikian karena belajar dari
pengalaman-pengalaman sebelumnya di organisasi yang saya masuki.
Untuk
melihat peluang cukuplah sederhana, setiap kejadian yang kita lalui ini
sebenarnya mengandung peluang. Cukup menanyakan pada diri “dari kejadian ini
apa yang saya syukuri, lalu fokuslah pada apa yang anda syukuri tersebut dan
buatkan target yang sederhana.
Management
(pengaturan)
Selama
saya mempelajari ilmu management hal yang paling dasar untuk saya pahami adalah
bagaimana cara mengatur sesuatu. “MENGATUR SESUATU” membacanya mungkinlah sangat sederhana akan
tetapi jika kita memikirkannya ternyata sangatlah kompleks, segalanya harus
anda atur agar anda bisa benar-benar meraih apa yang anda harapkan.
Saya
sangat tergugah ketika membaca buku you are a brand karya catherine kaputa.
Ketika Ia mendefinikan kata sukses dan bahagia. Bahagia adalah
menanamkan/menciptakan sikap positif terhadap diri sendiri-yakni kesan yang
kuat terhadap diri sendiri sedangkan sukses adalah menanamkan dalam pikiran
orang lain sikap positif terhadap diri kita. Sekali lagi kita tidak boleh
melihatnya semata-mata oposisi benner, yang seolah bahagia disini sedang sukses
barada disana. Saya perlu mengulang tentang berpikir briliant (ala busman
arifin) bahwa berpikir briliant merupakan pola berpikir proporsional melihat
hal yang holistik dan spesifik. Ada hal yang holistik yang bisa kita tangkap
dari defenisinya yakni positiflah melihatnya.
Model
atau konsep O3M ini bisa diterapkan oleh siapa saja baik dalam hal jasa ataupun
bukan jasa/barang. Karena konsep ini sudah diterapkan dibeberapa tempat dan
sangat simple. Saya sangat terpukau dengan ibu sri kumalaningsih ini yang
menghabiskan waktunya untuk masyarakat dan hal yang paling rahasia yang
kudapatkan dari buku ini adalah silaturahim. Silaturahim tidak dibahas dalam
buku ini tapi saya menganggap itulah inti dari buku ini.
Menurut
ibu srikumalaningsih ada 9 langkah agar konsep O3M ini dicapai
1. Mengubah
mindset
2. Bekerjasama
dengan lingkungan
3. Persamaan
visi dan misi
4. Pembentukan
organisasi sehat
5. Pemahaman
kondisi lingkungan
6. Penyusunan
konsep kegiatan
7. Produksi
skala kecil
8. Mencari
peluang
9. Pemahaman
bidang management
Sembilan
langkah ini jika dilakukan maka dengan sendirinya konsep O3M terlaksana.
Saya
tertarik menghubungkan sembilan langkah ini dengan pengalaman saya ketika
membantu teman-teman mandar pitu mendirikan organisasi sampai apa yang kami
lakukan sekarang. Mereka berjumlah 7 orang, bersahabat yang memiliki kepedulian
akan keterpurukan yang ada di sekelilingnya. 7 orang tersebut antara lain
sadri, rusman, emmu, ancha, tasman, hamid dan henra.
Awal
membantu teman-teman mandar pitu mendirikan organisasi ini sangat ribet karena
mereka tidak punya banyak pengalaman organisasi tapi memiliki kepedulian yang
tinggi terhadap kampung halamannya yakni sulbar. Mereka tidak tahu mau
melakukan apa dalam memulai organisasi ini, sehingga timbul percekcokan di
internal mereka. Dalam rentan waktu itu sahabat saya sadri dan rusman
mengetahui bahwa saya adalah orang yang sangat aktif dalam berorganisasi dan
merekapun meminta tolong agar organisasi ini tetap berdiri.
Mereka
berdua mengunjungi saya dikediaman saya di tanjung bunga. Waktu itu saya tidak
lagi menghabiskan waktu untuk organisasi karena sudah berpikir saatnya dimensi
interprenuer dijamah. Entah apa yang terbersit dalam pikiranku waktu itu, saya
meninggalkan bisnis yang saya geluti padahal selama setahun saya merilisnya.
Tapi hal yang paling kuingat adalah saya merasa terpanggil untuk membantu
mereka dan memang saya juga punya niatan untuk mencerdaskan orang-orang mandar yang
sempat saya abaikan. Menjual krupuk saya tinggalkan karena melihat antusias
mereka kepada kampung halaman kami, dan saya mengingat betul bahwa orang
sekaliber saya di organisasi saja tidak punya inisiatif seperti mereka. Mencari
uang saya tinggalkan dan fokus untuk membantu, mulailah konsolidasi akbar dalam
hidupku. Metode yang saya gunakan adalah pendekatan persuasif, saya menganggap
tidak adil jika hanya dua orang saja yang saya dengarkan karena ini bisa jadi
sangat subjektif. Saya dekati satu-persatu dari mereka dan menyimpulkan bahwa
mereka berkonflik hanya karena permasalahan tidak mendapatkan apresiasi. Bagi
saya permasalahan itu masih kecil dibandingkan dengan konflik yang terjadi di
organisasi besar.
Akhirnya
kami bisa solid kembali. Merekapun mengangkat saya sebagai pembina di
organisasi ini. Jika saya masukkan konsep O3M ini dengan pengalaman menyolidkan
kembali mandar pitu seperti ini.
Langkah
pertama: mengubah mindset
Mereka
mendapatkan kesulitan karena tidak mengetahui seperti bagaimana sebenarnya
dalam berlembaga. Rata-rata diantara mereka menginginkan bahwa organisasi ini
adalah organisasi paguyuban untuk menjalin silaturahim sesama warga sulawesi
barat khususnya yang melanjutkan kuliah di makassar. Saya melihat bahwa memang
ini sangatlah baik hanya saja rentan pada pengklaiman dan tidak akan menjadi
solid. Maka dari itu organisasi ini haruslah oraganisasi ke-kaderan yang
memprioritaskan kader dan membuka jalan agar bisa bersilaturahim dengan yang
lain. Saya tetap mengambil keinginan mereka dan meninggikannya agar mindset
mereka terbuka. Bukan hanya itu, semua organisasi juga bisa kita ajak sebagai
mitra mencerdaskan kehidupan bangsa. Etnis dan nusantara menjadi kesadaran
kami.
Mengubah
mindset dari egosentris ke etnosentris menjadi kesadaran nusantara. Itulah yang
saya yakinkan kepada teman-teman dan merekapun sepakat.
Langkah
kedua: Bekerjasama dengan lingkungan
Sayapun
bertanya kepada teman-teman pendiri, adakah sahabat kalian yang berasal dari
sulawesi barat? Jika ada, ajak mereka untuk
membantu menyukseskan organisasi ini dan ternyata kami berkumpul menjadi
belasan lambat laun puluhan dan alhamdulillah sekarang kami telah melakukan 2
kali pengkaderan.
Memang
awalnya kami hanya melakukan acara-acara kumpul bareng disertai dengan makan-makanan
yang dikirim dari kampung. Lama-kelamaan acara makan-makan sambil diskusi,
berlanjut pada diskusi tanpa makan-makan. Mungkin kalau anda membacanya sangat
sederhana tapi perlu anda tahu ini membutuhkan perjuangan yang sangat kompleks.
Berdiskusi tentang kehidupan bangsa, agama, kampung halaman menjadi makanan
kami sehari-hari. Yang dulunya berdiskusi dianggap tabu menjadi sesuatu yang
lazim.
Langkah
ketiga: Persamaan visi dan misi
Mengajak
mereka yang tentunya dari inisiatif mereka sendiri untuk membuat visi dan misi
bersama agar organisasi ini lebih terarah. Slogan kami inggai mammesa dilalang
akkaresoang mappikkirri ala’biratta yang artinya mari bersatu dalam kondisi
kritis memikirkan kelebihan kita (tentunya kevalidan arti ini saya kurang tahu).
Saya mengartikannya seperti demikian.
Visi
kami menjadi pusat intelektual mahasiswa sulawesi barat dalam mencerdaskan
kehidupan bangsa.
Misi
kami antara lain
Mengembangkan
potensi sumber daya manusia
Meningkatkan
mutu intelektual mahasiswa
Menciptakan
intelektual yang malaqbi
Menyuplai
kemampuan mahasiswa ke masyarakat
Tentunya
visi maupun misi kami bisa saja berubah, karena kami menyadari bahwa tantangan
zaman itu selalu berubah-ubah (baca catatan lain saya yang berjudul pemuda dan
tantangan zaman)
Langkah
keempat: pembentukan organisasi sehat
Di
awal sudah saya jelaskan bahwa betapa perlunya kita mendirikan mandar pitu ini
sebagai organisasi kekaderan agar kedepannya kita bisa menjadikannya sebagai
organisasi yang lebih solid, kreatif dan mampu menjaga silaturahim sesama warga
sulawesi barat dan nusantara.
Pengkaderan
dibutuhkan karena dengan itu kita bisa melihat kemampuan masing-masing anggota
organisasi dan kita juga tidak boleh menutup diri terhadap orang yang diluar
dari organisasi kita. Saya lebih sepakat bahwa masing-masing dari kita itu akan
bisa memberikan manfaat bagi masyarakat dengan cara kita masing-masing.
Organisasi
mandar pitu tidak boleh menjerumuskan dirinya pada satu dimensi kehidupan saja,
sembari kita tetap mencari pola yang ada. Pola kita juga harus ada yang paten
agar kita tetap menjaga ciri khas kita yakni kepedulian. Saya selalu
mencontohkan gagasan sederhana ini dengan mengambil kertas. Kertas tersebut
saya bakar dan menjadi abu. Tahu apa makna yang terkandung dari apa yang saya
lakukan? Tentunya dalam setiap perubahan/mencari pola kita juga harus memiliki
jati diri (kertas) agar bisa menyempurna (abu).
Hal
yang saya syukuri dari diriku adalah kemampuan menyederhanakan makna hidup.
Waktu membaca buku midset revolution ini, saya tergugah karena menyadari bahwa
sosok ibu sri kumalaningsih sangatlah luar biasa (briliant). Sosoknya
mengingatkanku bahwa ternyata masih banyak orang yang menghabiskan waktunya
membaca buku yang rumit dan menjelaskannya secara sederhana kepada khalayak masyarakat.
Langkah
kelima: pemahaman kondisi lingkungan
Saya
mengajak beberapa pendiri untuk aktif menghadiri acara-acara organisasi besar
yang saya masuki dengan berharap mereka mampu mempelajari setiap kondisi yang
ada. Hidup berorganisasi itu bagaimana.
Setelah
saya mengajak teman-teman jalan-jalan di organisasi, saya selalu bertanya
kepada teman-teman. Apa itu berfikir? Berfikir adalah pengkondisian pemahaman
dari pengetahuan dahulu ke pengetahuan sekarang. Lalu saya bertanya lagi apa
makna hidup yang bisa dipetik dari defenisi itu? Gunakan ilmu yang kalian
dapatkan dari organisasi besar itu agar kamu mempoles mandar pitu lebih baik
lagi. Ambil hal yang baik dari organisasi yang besar tersebut agar kamu bisa
menjadikan mandar pitu ini sebagai organisasi yang bisa mencerdaskan bangsa.
Saya
memiliki prinsip hidup lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan
dan lebih baik menyalakan lilin daripada menyanjung terang. Maksudnya adalah
lakukanlah yang terbaik dari kemampuanmu yang sekarang. Tidak usah bersedih
karena terlampaui oleh orang lain dan tidak usah bersedih hanya karena
keidealan konsepmu belum teraktual. Sembari teman-teman belajar, lakukanlah hal
yang bermanfaat.
Langkah
keenam: penyusunan konsep kegiatan
Dari
kesemua bembelajaran teman-teman di organisasi besar, merekapun memiliki
inisiatif untuk menyusun kegiatan. Dibagi dengan harian, mingguan, bulanan dan
tahunan.
Harian:
diskusi, membaca, bedah buku
Mingguan:
diskusi di kampus-kampus yang ada anggota mandar pitunya
Bulanan:
acara makan-makan sambil diskusi seputar organisasi atau sekedar mengevaluasi
dan rekreasi
Tahunan:
seminar
Dari
semua penyusunan konsep itu, semuanya dilakukan dengan menyenangkan apalagi hal
yang paling membuatku sangat bahagia yakni pada saat teman-teman memiliki
inisiatif untuk mengadakan pelatihan motivasi menulis di polman. Tepatnya pada
tanggal 2 februaru 2013 kegiatan itu terlaksana. Persiapan kami hanya seminggu
dan uang untuk melaksanakan kegiatan tersebut minus. 4 hari sebelum kegiatan
saya turut membantu teman-teman karena banyak diantara mereka yang masih sulit
memanaj kegiatan. Dengan metode cepat yang saya ketahui adalah kandang paksa.
Saya membagi mereka dalam beberapa kelompok. Ada yang mencari dana, ada yang
mempersiapkan makanan kegiatan, ada yang pergi melobi ke sekolah-sekolah dan
ada pula yang mempersiapkan penerbitan buku secara tiba-tiba. Alhamdulillah
dari ini mereka kembali bersemangat dan melanjutkan perjuangan. Saat itu, saya
merasa sangat bahagia karena teman-teman mandar pitu mengapresiasi kemampuan
saya. Saya selalu mengatakan bahwa identitas saya adalah busman arifin penulis
dan motivator sekaligus pekerja yang cerdas dan solutif. Benar-banar saya
rasakan di kegiatan ini. Buku terbit dan memotivasi siswa-siswa menulis agar
bisa menjadikan sulbar sebagai daerah penulis buku. Jujur saja, di organisasi
saya sebelumnya tidak pernah mengapresiasi saya untuk meraih cita-citaku.
Selama ini organisasi hanya memanfaatkan kecerdasan yang saya miliki, itu juga
yang menjadikan saya mundur di dunia organisasi dan menjadi interpenuer sebelum
kembali berorganisasi di mandar pitu. Bahkan gara-gara mandar pitu nama saya
semakin besar dan dikenal dimana-mana khususnya sulawesi selatan dan sulawesi
barat.
Dipanggil
menjabat sebagai ketua bidang keilmuan di organisasi kesatuan pelajar mahasiswa
polewali mandar. Padahal saya tidak pernah dikader di organisasi tersebut.
Bukan hanya itu, sayapun dipilih menjadi ketua cabang human illumination dengan
pertimbangan bahwa saya telah berhasil mendirikan organisasi intelektual tanpa
bantuan senior-senior. Menurutnya saya memiliki kemampuan leadership dan
kecerdasannya tidak lagi dipertanyakan. Rasa terharu saya semakin memuncak
karena saya sangat berharap menjadi ketua di dua organisasi saja yakni
organisasi kebanggaanku eKSPLORASI dan organisasi yang mencerdaskanku Human
Illumination.
Langkah
ketujuh: produksi skala kecil
Dalam
buku ini dicontohkan lewat produksi hasil-hasil panen. Tapi saya konsisten
untuk menuliskan pengalaman saya ketika berada di mandar pitu. Tepatnya karya,
kami memiliki banyak karya untuk mendapatkan hasil entah itu uang maupun
penghargaan. Terlebih lagi ketika kami mengadakan pengkaderan pertama maupun
kedua. Kami melakukan penggalangan dana dengan menjual kopi di syekh yusuf.
Menjual buku dan krupuk juga kami lakukan. Hasil pengalaman saya dalam mencari
uang dimakassar.
Saya
ingat apa yang saya rasakan bersama teman-teman mandar pitu betapa
membahagiakan dan menyenangkan melakukan penggalangan dana. Mungkin orang lain
akan mengatakan yang kami lakukan adalah perbuatan yang konyol. Banyak
organisasi mahasiswa yang mengandalkan proposal untuk melaksanakan kegiatannya
tapi saya tidak menyukai cara itu karena tidak memberikan pelajaran yang
berarti bagi kader. Terlalu manja kalau proposal sebagai andalan setiap
organisasi. Saya pernah menulis dicatatan saya yang lain mahasiswa dan
financial problem. Bahwa kita harus membiasakan diri mengasah kemandirian dan
lebih lengkapnya silahkan buka link ini https://www.facebook.com/notes/busman-briliant/mahasiswa-dan-financial-problem/211348959032398
semoga ada manfaatnya.
Langkah
kedelapan: mencari peluang
Terkadang
seseorang sulit mencari peluang apalagi dalam kehidupan berorganisasi. Bagi
saya pribadi semua hal adalah peluang jika cermat mensyukuri setiap kejadian
yang kita alami. Kisah kami di mandar pitu membuat kami cermat melihat peluang
dalam keadaan kepepet kami mampu melakukan sesuatu yang bersifat peluang. Waktu
kami mengadakan pengkaderan kedua di tanjung bayang kami mendapatkan masalah
besar. Uang tidak cukup untuk membayar sewa rumah. Saya bepikir keras bagaimana
caranya agar rumah ini lunas.?
Tapi
saya sangat bersyukur karena tiba-tiba senior saya membutuhkan tenaga kerja
menyapu pantai losari. Suksesi daeng ical untuk mendaftarkan diri sebagai calon
walikota. Pada saat saya mengetahui itu, saya tidak pikir panjang, saya
langsung bilang ke senior saya siap menghandle 30 orang untuk membersihkan
pantai losari. Peluang akan datang dengan sendirinya jika kita menyukuri setiap
yang kita lakukan.
Saya
berpendapat bahwa salah satu jalan sukses adalah keberuntungan. Keberuntungan
bisa kita dapatkan jika kita menjaga setiap tindakan kita. Dari kejadian ini
saya mendapatkan inspirasi bahwa perbuatan kita harus dipikirkan secara jangka
panjang agar terjadi pada diri kita sesuatu yang membuat kita beruntung.
Langkah
kesembilan: pemahaman bidang management
Sebagai
pembina mandar pitu saya mensosialisasikan kepada teman-teman pemahaman
mengenai management apresiatif. Saya pernah melihat buku tersebut tapi saya
tidak pernah membacanya. Kata teman saya yang membaca buku itu, dia mengatakan
bahwa apa yang saya terapkan di mandar pitu ini adalah management apresiatif.
Terlepas dari defenisi buku itu tentang management apresiatif saya beranggapan
bahwa management itu tentang bagaimana mengatur sesuatu. Cukup hal itu yang
saya renungi dan pikirkan maka saya akan mendapatkan jawabannya. Saya tidak
tahu karena biasanya saya mendapatkan banyak pengetahuan dari hasil membaca
buku, tapi khusus management saya dapatkan dari pengalaman saya di organisasi.
Tidak ada hal yang membuat saya begitu sangat pusing ketika mendapatkan suatu
tantangan.
Secara
sederhana ada 2 model management yang saya terapkan kepada teman-teman mandar
pitu. Pertama secara rapi dan yang kedua secara berantakan. Saya tidak tahu apa
nama ilmiahnya. Kedua cara ini sama-sama memberikan kekuatan pada kami. Yang
saya maksud dengan secara rapi adalah teman-teman yang memiliki kemampuan seni
maka ia yang akan menjadi bidang ahli seni, cerdas yaaa bidang keilmuan, yang
suka ngumpul-ngumpul ya bidang kreatif. Dan yang saya maksud secara berantakan
adalah siapapun yang punya minat disana maka silahkan. Menciptakan suasana yang
rapi maupun yang berantakan justru membuat kami sangat fleksible menghadapi
tantangan zaman.
Tentunya
secara rapi ini agak lebih sulit ketimbang yang berantakan karena kita harus
mengetahui bakat para kader dan minatnya dimana. Intinya adalah mengapresiasi
setiap kemampuan dan berusaha agar tidak ada yang kecewa dari setiap keputusan.
Qwertyuiopasdfghjklzxcvbnm,
Saya
menuliskan buku mindset revolution sebagai latihan saya untuk menjadi penulis,
saya berusaha mempraktekkan 2 buku yang saya baca secara berganti-gantian yakni
buku karya hernowo mengikat makna dan karya peter elbow writing without
teachers “merdeka dalam menulis!
Yang
kudapat dari kedua buku tersebut bisa saya rambung ketika menghubungkan karya
bobbi de porter quantum note-taker (mencatat) yakni konsepnya menulis referensi
dan menulis penghayatan kita. Sisi kiri referensi dan sisi kanan menurut kita.
Referensi mindset revolution
|
Menurut saya
|
Konsep O3M
|
Dalam kehidupan saya tentang konsep
itu
|
Maka
terkadang ketika anda membaca catatan ini, saya masih biasa menggunakan
pendapat sendiri. Sayapun berharap siapapun yang membaca catatan ini bisa
memaksimalkan dirinya untuk selalu bisa menulis karena menulis membuat kita
merdeka dan cerdas secara intrapersonal dan interpersonal. Saya mendapatkan
banyak kebahagiaan ketika membaca ulang setiap tulisan saya dan sayapun
terkadang tidak bisa mengedit tulisan saya sendiri. Jujur sayapun terkadang
merasa masih terus-menerus latihan agar saya bisa mengedit tulisan ini. Siapapun
yang ingin membantu, saya mohon agar tulisan ini mampu anda edit. Tulisan ini
tidak saya edit mulai dari menulis kata pertama sampai kata yang anda baca ini.
Mohon
bantuan anda.
Aku
juga masih belajar menulis. Senang rasanya
Busman
Arifin, 24 september 2013

0 Komentar